Troy Deeney: Manchester United Kehilangan Identitas

Manchester United kembali menjadi sorotan tajam, kali ini lewat kritik keras dari mantan striker Premier League, Troy Deeney. Dalam kolom opininya di The Sun, Deeney menilai klub berjuluk Setan Merah itu telah kehilangan arah dan identitas sebagai salah satu kekuatan elite sepak bola dunia.

Menurut Deeney, kemunduran Manchester United sudah mencapai titik memalukan. Klub yang dahulu identik dengan dominasi, mental juara, dan aura menakutkan, kini justru menjadi bahan ejekan, terutama di mata generasi muda penggemar sepak bola.

“Saya sudah benar-benar muak dengan Manchester United. Klub yang dulu dianggap terbesar di Inggris, bahkan dunia, sekarang justru menjadi bahan tertawaan. Untuk anak-anak di bawah usia 16 tahun, United itu lelucon,” tulis Deeney, menggambarkan betapa jauhnya citra klub saat ini dari masa kejayaannya.

Terjebak Bayang-bayang Sir Alex Ferguson

Deeney menilai akar masalah Manchester United tidak semata soal hasil pertandingan atau performa pemain di lapangan. Menurutnya, kesalahan struktural yang terus berulang sejak kepergian Sir Alex Ferguson menjadi faktor utama kemerosotan klub.

Ia menyoroti kegagalan United untuk benar-benar memutus ketergantungan terhadap masa lalu. Sebagai perbandingan, Deeney menyebut Arsenal yang dinilainya mampu bergerak maju setelah era Arsene Wenger berakhir.

“Ferguson adalah manajer terbaik sepanjang masa. Tapi mengapa United terus membungkuk kepadanya? Dia tidak bekerja di sana lagi dan tidak terlibat dalam operasional harian klub,” kritik Deeney.

Menurutnya, kebiasaan petinggi klub yang seolah masih mencari restu Ferguson dalam pengambilan keputusan justru merusak wibawa manajemen. Struktur yang terlihat ragu dan tidak mandiri, kata Deeney, sulit mendapatkan respek dari para pemain.

Baca Juga:

Harga Emas Perhiasan Hari Ini 17 Januari 2026

Oleh:
Rajabotak

Masalah Manajemen dan Harapan yang Pupus

Sorotan Deeney kemudian mengarah ke level tertinggi klub. Setelah lama disalahkan, keluarga Glazer sempat memberi harapan dengan masuknya Sir Jim Ratcliffe. Namun, harapan itu dinilai tak kunjung terwujud.

Deeney menyebut keputusan-keputusan manajemen Manchester United di era baru justru terlihat ceroboh dan tidak konsisten, terutama dalam membangun struktur jangka panjang yang modern dan visioner.

“Manchester United seharusnya menjadi yang terbaik di kelasnya. Tapi mereka sudah lama tidak bertindak seperti itu, baik di dalam maupun di luar lapangan,” tulis Deeney.Permainan Yang Sangat Terbaik Di Tahun Ini Menjadi Pandangan Slotters Untuk Mencoba Bermain Di Rajabotak

Kepergian Dan Ashworth dan Ketakutan akan Perubahan

Puncak kekecewaan Deeney tertuju pada keputusan klub menyingkirkan Dan Ashworth. Menurutnya, Ashworth adalah figur yang paling dibutuhkan United untuk merombak sistem lama yang sudah tidak relevan.

“United butuh seseorang seperti Ashworth untuk merobek struktur mereka dan membangun ulang. Tapi hanya karena perbedaan pendapat, dia disingkirkan. Ini klub yang takut pada perubahan,” tegas Deeney.

Pelatih Jadi Kambing Hitam

Kondisi internal yang tidak stabil itu, lanjut Deeney, berdampak langsung pada kekacauan di kursi manajer. Dari Erik ten Hag hingga penunjukan Michael Carrick sebagai pelatih sementara, para pelatih dinilai hanya menjadi kambing hitam atas kegagalan sistemik yang berasal dari level manajemen.

Menurutnya, pergantian pelatih tidak akan menyelesaikan masalah selama fondasi klub tidak dibenahi secara menyeluruh.

Krisis Identitas yang Belum Berujung

Pada akhirnya, Deeney melontarkan pertanyaan mendasar kepada publik sepak bola: bukti apa yang dimiliki Manchester United untuk meyakinkan bahwa model kepemilikan dan struktur direktur sepak bola saat ini mampu membawa klub kembali ke puncak?

Selama pertanyaan itu belum terjawab, krisis identitas di Old Trafford tampaknya masih akan terus menghantui klub yang dulu pernah menjadi standar emas sepak bola Inggris tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *