Kasus Siswa SMP Di Bullying Secara Sadis Terjadi Di Palopo
Kasus Siswa SMP – Suatu video pendek yang memperlihatkan aksi perundungan serta pengeroyokan beberapa siswa SMP terhadap seseorang temannya viral di bermacam platform media sosial. Video tersebut langsung menuai kecaman publik.
Dalam rekaman yang tersebar, nampak seseorang siswa berseragam celana biru serta batik biru- putih memukul korban yang telah tergeletak di tanah. Tidak menyudahi di sana, pelakon menarik pakaian korban sembari mengejeknya. Sehabis korban bangun, pelakon menyandarkannya ke bilik sekolah serta melontarkan perkata agresif.
Tidak cuma satu orang, seseorang siswa lain yang menggunakan tas hitam- putih pula turut menganiaya. Dia nampak menendang punggung korban dengan brutal.
Belum lama dikenal, peristiwa itu terjalin di SMP Negara 13 Kambo, Kota Palopo, Sulawesi Selatan, pada Selasa( 7/ 10/ 2025) dekat jam 14. 30 Waktu indonesia tengah(WITA). Korban bernama samaran RL( 13), sedangkan pelakon pengeroyokan tercatat terdapat 5 orang, tiap- tiap bernama samaran MA( 13), MT( 13), AR( 13), A( 13), serta R( 13).
Fina, bunda kandung korban, membetulkan peristiwa tersebut. Dia berkata pihak keluarga sudah memberi tahu permasalahan itu secara formal ke kepolisian.
Baca Juga : Penyebab Banjir Di Indonesia Menurut Para Pengamat Dunia Maya
Kronologi Kasus Siswa SMP
” Aku di Samarinda saat ini. Tadi malam telah melapor ke Polres, diantar sama neneknya,” kata Fina.
Bagi Fina, pengeroyokan itu bermula kala anaknya menolak menuruti perintah para pelakon. Penolakan itu merangsang kemarahan sampai berujung pada pemukulan.
” Anak aku lagi makan nasi kuning, seketika ditarik kemudian dipukul, diajak duel sama ini anak jagoan,” jelasnya.
Fina mengaku sangat jengkel dengan insiden yang mengenai buah hatinya tersebut. Dia menegaskan para pelakon wajib menemukan sanksi yang setimpal.
” Jika data yang aku bisa, pelakon telah dinonaktifkan dari sekolah. Tetapi aku hendak pantau apakah betul telah dikeluarkan ataupun tidak. Jika tidak, aku hendak tuntut sekolah,” ucapnya dengan nada jengkel.
Dia pula menyebut video yang tersebar cuma merekam sebagian kecil dari peristiwa. Saat sebelum video terbuat, anaknya telah dianiaya terlebih dulu.
” Video ini hanya sepotong. Anak aku telah dipukuli lama saat sebelum peristiwa itu direkam. Apalagi ini bukan awal kalinya, telah kerap anak aku dipukul sama itu anak jagoan,” ucapnya.
Kapolres Palopo, AKBP Dedi Surya Dharma, membetulkan laporan tersebut. Dia menyebut permasalahan ini saat ini ditangani Satreskrim Polres Palopo.
” Telah dilaporkan. Pernah kita usahakan mediasi dahulu, tetapi kandas,” ucapnya.
Kasus Siswa SMP Sempat Mediasi Namun Gagal
Mediasi pernah difasilitasi oleh Bhabinkamtibmas Kelurahan Kambo, Kecamatan Mungkajang, Aipda Suhardi Wahid, di ruang guru SMP Negara 13 Kambo pada Rabu( 8/ 10/ 2025).
” Kami lekas mengambil langkah kilat dengan menggelar pertemuan mediasi antara pihak sekolah, pemerintah setempat, dan orang tua pelakon serta korban,” kata Suhardi.
Bersumber pada penjelasan, insiden bermula kala para pelakon memanggil korban yang hendak kembali di depan ruang laboratorium, kemudian secara bersama- sama memukulnya memakai kepalan tangan ke wajah serta dada.
” Korban hadapi memar pada mata kiri, perih di dada, dan cedera gores di wajah akibat cakaran kuku,” jelas Suhardi.
Tetapi, mediasi belum menciptakan konvensi. Pihak keluarga korban menolak sebab korban masih meringik sakit serta hendak menempuh pengecekan lebih lanjut di rumah sakit.
Menyikapi perihal itu, Suhardi menegaskan komitmennya buat menguatkan pengawasan di sekolah supaya permasalahan seragam tidak terulang.
” Kami hendak terus berkoordinasi dengan pihak sekolah serta pemerintah setempat buat melaksanakan pembinaan terhadap para pelajar, supaya mereka lebih bijak dalam berperilaku serta tidak gampang terprovokasi,” ucapnya.
Fina, bunda korban, menegaskan kalau dirinya menolak seluruh upaya mediasi yang dicoba oleh pihak manapun. Menurutnya para siswa yang melaksanakan penganiayaan wajib memperoleh hukuman selaku dampak jera.
” Aku menolak damai. Ini anak wajib menemukan hukuman. Ia wajib dipenjara. Aku selaku bunda tidak terima. Untung saja ini peristiwa viral, jika tidak tentu pihak sekolah hendak berupaya menutup- nutupi,” tegasnya.